Pengalaman yang sering terjadi
pada usaha koordinasi dalam suatu organisasi
adalah terjadinya perbedaan
antar sudut pandang dan cara yang berbeda dalam
mancapai tujuan. Perbedaan ini
merupakan awal dari terjadinya pertentangan.
Sebagai usaha untuk menciptakan
koordinasi yang efektif dapat dilakukan usaha
pendekatan dengan melihat
mekanisme dari koordinasi. Stoner dalam bukunya
" Management " hal.
246 - 247 mangemukakan paling tidak terdapat empat
pendekatan yang dapat dilakukan
oleh manajer untuk mencapai koordinasi yang
efektif, yaitu Hierarki
manajerial, komunikasi antarbagian (interdepartemental
communicalion ) dan hubungan antar individu ( Liaison individuals ).
l. Hirarki Manejerial ( Managerial Hierarchy )
Cara lama yang sering dilakukan untuk
menghentikan konflik adalah dengan menggunakan rantai komando dalam organisasi
( organization’s chain of command ) apabila beberapa orang pekerja mempunyai
hubungan pekerjaan yang tidak sependapat ( Disagreement ) mereka menghubungi
pimpinannya ( manajer ) untuk mengetahui keputusan tentang kebijakan
perusahaan.
2. Komunikasi Antar
Bagian ( Interdepartemental Communication )
Komunikasi antara para manajer terhadap bagian – bagian yang berbeda ( Lateral
) adalah merupakan bentuk integrasi dalam kehidupan suatu organisasi.
Apabila terjadi komunikasi yang efektif dari para manajer secara horizontal ( dalam
level yang sama ) hal tersebut merupakan sumbangan utama untuk menciptakan bentuk
koordinasi yang efektif. Komunikasi ini biasanya menyangkut hal yang berada diluar
formulasi kebijaksanaan. ( lebih bersifat informal). Misalnya manajer bagian
penjualan dapat mengkoordinasikan tujuan bagian penjulan dengan departertemen
produksi.
3. Kepanitiaan
( committee )
Koordinasi antar bagian dapat dijadikan sebagai
landasan dasar dangan membuat bentuk secara formal misalnya dengan mengadakan pertemuan
berkala ( operational meeting ) yang murupakan kepanitiaan ( committee ) dari “panitia
opcrasi”. Misalnya suatu point kendala koordinasi dicatat kemudian diinformasikan
kembali oleh bagian yang bersangkutan pada meeting berikutnya baik penyebab maupun
tindak lanjut penyelesaiannya.
Bentuk komite ini terdapat dari :
o Generel Menagenent
Committee
Yaitu komite yung beranggotakan senior
manajer, seringkali para manajer ini mempunyai sisi pandang yang berbeda
tentang keputusan yang sama. Tugas dari komite ini adalah penetapan tujuan perusahaan
dihubungkan dengan berbagai tujuan organisasi secara keseluruhan dan pola
pengawasan operasi dari kegiatan bagian yang beraneka ragam.
o Komlte yang berhubungan dengan spesial area (Committee daeling with
special area)
Komite ini menggambarkan mekanisme
pekerjaan yang berada pada lower – level executives ( pelaksana tingkat bawah ) dengan ide – ide
mereka yang akan dibawa ke tingkat operasional
meeting manajemen yang lebih tinggi, termasuk ke manajemen puncak.
o Penghubung individual( Laison Individual )
Tugas utama dari Laison ini adalah
membantu para manajer untuk maningkatkan koordinasi secara lebih efektif.
Mereka menyediakan alat komunikasi antara bagian ( departemen ) dan menjelaskan
aturan yang spesifik dan berperan pada setiap pertemuan (meeting ) operasi
perusahaan. Laison ini biasanya terdiri dari manajer produksi, koordinator
pelanggan ( costomers coordinator ) yaitu merupakan wakil perusahaan dalam
pelayanan pelanggan, serta para manajer proyek.
l. The Relevan Set ( Kelompok yang saling
berkaitan )
Kelompok-kelompok yang saling berkaitan
ini sering disebut dengan “the organizational set” yang terdiri dari semua
komponen yang terdapat dalam suatu organisasi yaitu manajer, para karyawan, group
termasuk individu yang terikat didalammnya berikut prilakunya. Organizational
set saling berinteraksi dalam kegiatan mencapai tujuan perusahaan.
2. Some Uniquenesses( Keunikrn mesing - mesing
kelompok)
Banyak orang berpendapat bahwa tujuan
suatu kelompok atau bagian dalam suatu organisasi dapat berhasil karena adanya manajemen
yang efektif, dalam arti bagaimana mengarahkan prilaku kelompok yang ada didalamnya
untuk mencapai tujuan yang sama. Akan tetapi usaha koordinasi dalam kelompok yang
berbeda – beda sangat sulit untuk dilaksanakan. Masing – masing kelompok dalam organisasi
mempunyai interes individu, misalnya kelorrpok yang berbeda pada grup satu dan
dua saling berhubungan akan tetapi berada dalam bagian yang berbeda.
Masing-masing group / kelompok mempunyai budaya yang unik dalam rnencapai
tujuan perusahaan.
Jadi, tujuan dari para manajer tidak hanya
mengarahkan anggota organisasi tapi mengarahkan prilaku anggota / kelompok
untuk bersama-sama dalam mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.
Hambatan-Hembatan
Usaha Koordinasi yang Efektif
Paul R.
Lawrence dan Jay W.W. Lorch yang
dikutip James A.F. Stoner dalam bukunya " Management " mengemukakan bahwa terdapat empat tipe perbedaan
dalam sikap dan prilaku bekerja dari individu dan departemen dalam suatu
organisasi yang akan menghambat tugas pengkoordinasian yang efektif yaitu :
1. Perbedean dalam
orientasi tujuan ( Differences in orientation
toward
particular
goals )
Anggota-anggota dari departemen yang
berbeda mengembangkan pandangan mereka sendiri tentang bagaimana caranya untuk
mancapai kepentingan organisasi dengan cara yang lebih baik. Misalnya, bagian penjualan
menganggap keanekaragaman produk lebih penting dari peningkatan kualitas, bagian
keuangan menganggap bahwa pengendalian biaya merupakan hal yang lebih penting
serta berbagai anggapan lain yang memicu suatu konflik
2. Perbedaan dalam orientesi waktu ( Differences in time orientation )
Pandangan orientasi waktu ini juga akan
mempersulit usaha koordinasi, misalnya bagian pemasaran menghendaki agar segera
dilakukan produksi, bagian produksi masih memerlukan waktu untuk set-up mesin
dan bagian penjualan masih meminta waktu yang relative lama untuk finalisasi
pengembangan produk
3. Perbedaan
orientasi antar pribadi / kelompok ( Differences
in
interpersonal
orientation )
Kegiatan produksi memerlukan komunikasi
dan pambuatan keputusan yang " segera " agar prosesnya lancar.
Sedangkan kelompok pada bagian litbang ( R & D ) mengatakan " biarkanlah
kami yang melakukan itu " dan bertindak lebih santai dan personal yang
terlibat didalamnya masih berdiskusi dan saling mengemukakan pendapatnya.
4. Perbedaan dalam formalitas bagian organisasi (Differences in formality of structure)
Setiap bagian-bagian dalam organisasi
mungkin mempunyai metode – metode dan standar yang berbeda untuk mengevaluasi
program tujuan dan imbalan jasa bagi karyawannya. Pada departermen produksi kuantitas
dan lualitas diawasi secara ketat dan bidang pekerjaannya lebih berat. Sedangkan
pada departemen personalia standar pelaksanaannya lebih longgar dan sifat
pekerjaannya lebih ringan.
Hambatan - hambatan merupakan
suatu symptom ( gejala ) yang berpotensi menimbulkan inkoordinasi (
ketidakpaduan ) dan dapat menimbulkan konflik
Catatan Rio
Suatu organisasi bisnis diharapkan akan berjalan
secara efektif organisasi yang tidak mampu untuk berkembang identik dengan
ketidakmampuan manajer dalam membimbing laju organisasi dan kondisi seperti itu
organisasi disebut berada dalam keadaan " Under Manage ". Tidak ada
satu tujuan pun yeng dapat diharapkan tercapai dari organisasi seperti itu. Semua
bagian yang merupakan tubuh organisasi tidak dapat berfungsi sebagai mana
mestinya malah ada kecendrungan menghambat organisasi dalam mencapai target
tujuan yang telah ditetapkan. Salah satu usaha manajemen adalah berusaha mengintegrasikan
semua potensi dalam
organisasi agar dapat terintegrasi pada satu tujuan
yang telah disepakati. Kegiatan-kegiatan dalam satuan yang terpisah baik secara
individu, kelompok maupun bidang – bidang kerja harus dikoordinasi untuk
mencapai tujuan secara efektif dan efisien.
Pengertian
Koordinasi
Menurut Duncan dalam bukunya "organizational behavior"
.Koordinasi adalah pengarahan yang efektif terhadap tindakan – tindakan individu
muapun kelompok untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan (coordituting is
the direction of individual and group actions toward some desirable goal ).
Menunt James A.F. Stoner dalam bukunya “ Management “
Koordinasi adalah proses pengintegrasian tujuan-tujuan dan kegiatan-kegiatan
pada satuan yang terpisah ( Department /
bidang fungsional ) dan memimpin
hubungan antar organisasi untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien.
Jadi, kegiatan seorang manajer dalam usaha koordinasi
menyangkut dua sisi yaitu : memimpin hubungan baik antar kelompok dalam
organisasi ( Managing intergroup relations
) dan memimpin hubungan antar bagian yang sejajar dalam suatu organisasi (
Managing lateral relations in organizations )
Konsep Kekuasaan Dalam Organisasi
Adalah sangat sulit untuk menentukan konsep tentang kekuasaan
atau “kuasa” dalam organisasi.
“David C. Mc. Cleland” dalam
bukunya Two Faces of Power menyangkut
hal ini dengan menyebutkannya terdapat dua muka dari kekuasaan yaitu : A
Negative Face ( sisi negatif ) dan A Positif Face ( sisi positif )
Sisi Negatif : mengandung pengertian bahwa dalam mempunyai kekuasaan terdapat orang lain dengan prinsip If Win You Lose dengan angapan bahwa orang lain berada pada posisi yang lebih lemah.
Sisi Positif : merupakan tanda yang memberikan perhatian kepada pencapaian tujuan kelompok dan membantu menemukan dan merumuskan sebagai tujuan. Pengaruh dimaksudkan On Behalf of Reather Than Over Other yaitu penggunaan pengaruh “atas nama” dan bukan pengaruh “atas nama” dan bukan “diatas” orang lain
Sisi Positif : merupakan tanda yang memberikan perhatian kepada pencapaian tujuan kelompok dan membantu menemukan dan merumuskan sebagai tujuan. Pengaruh dimaksudkan On Behalf of Reather Than Over Other yaitu penggunaan pengaruh “atas nama” dan bukan pengaruh “atas nama” dan bukan “diatas” orang lain
Norman H. Martin dan Johr H. Sims dalam bukunya "Power
Tactics” menekankan kepada subjek bagaimana suatu kekuasaan itu dapat dipergunakan
secara nyata oleh manajer.
Seorang manajer akan sukses menggunakan kekuasaannya
bila menggunakan taktik kekuasaan sebagai berikut :
l. Memberikan nesihat /
bermunsyawarah ( Taking Counsel )
Yaitu
membrikan advise kepada bawahannya bila membuat keputusan yang kurang baik dan bukan
menyalahkan.
2. Bersekutu ( Alliances
)
Manajer dao bawahannya harus berada pada front yang sama
dan bukan berbeda.
3. Mampu Menggerakan ( Maneuverability
)
Seorang
manajer harus siap untuk menyesuaikan secara lembut ( smoothly ) terhadap perubahan-perubahan utama dalam kebijaksanaan
maupun perencanaan - perencanaan organisasi.
4. Mampu Berkomunikasi ( Communication
)
Memberikan
informasi dan berkomunikasi yang terlalu banyak kepada bawahan bukanlah suatu
kebiasaan yang baik Informasi yang disampaikan adalah informasi yang seharusnya
disampaikan.
5. Kompromi ( Compomising
)
Manajer harus dapat kompromi sedemikian rupa, misalnya dalam
panekanan.
6. Solusi Negatif ( Negative
Solution )
Seringkali
seorang manajer mengajukan usulan ( proposal ) yang kurang disetujui oleh
bawahanya. Akan tetapi tidak perlu untuk menunjukan “ketidaksenangan”, kadangkala
hal tersebut dikarenakan waktu yang tidak tepat ( negative time ).
Catatan Rio
Faktor – faktor yang mempengaruhi seseorang menerima wewenang
antara lain ialah sebagai berikut :
a.
Adanya keyakinan bahwa jika yang menerima perintah tadi
maka kerja sama da-
lam
organisasi akan menjadi lebih baik dan tujuan organisasi dapat lebih mudah
dicapai. Dengan demikian tujuan pribadi turut pula tercapai
b. Adanya
reward ( balas jasa ) yang diharapkan baik bersifat materil maupun im-
materil.
c.
Karena takut untuk diasingkan dari pergaulan masyarakat
(dapat dianggap Social
Motivation Power)
d. Mengelakkan
tanggung jawab yang lebih besar
e.
Adanya standar moral yaitu menerima perintah tersebut
sebagai suatu kewajiban
f.
Disebabkan adanya rasa kagum dan hormat terhadap
kepribadian seserorng.
Catatan Rio
a. Aspek Person / Subjektif
yaitu
tersedianya seseorang untuk menerima perintah yang ditujukan. Kesediaan seseorang
menerima perintah atasan harus mematuhi syarat sebagai berikut :
− Ia dipercayai bahwa
perintah tidak bertentangan dengan tujuan organisasi
maupun pribadi.
− Secara fisik dan
mental dia sanggup menjalankan perintah tersebut
− Adanya zone of
indeferent dimana order yang diberikan tanpa ragu – ragu /
membingungkan
b. Aspek Objektif
Dimana
cara ini tidak menyangkut aspek pribadi yaitu sifat atau karakter dari pada
suatu perintah yang diberikan sedemikian rupa sehingga mungkin dapat dijalankan
orang lain maka pemberian perintah tersebut harus diberikan syarat – syarat
tertentu agar sifat dan perintah yang diberikan itu memungkinkan dapat diterima
/ dijalankan.
Catatan Rio
Wewenang
Wewenang – Pengambilan
Keputusan
Yakni menurunkan wewenang berdasarkan rantai komando
Pendelegasian Wewenang dan Komunikasi
1. Pendapat – pendapat ahli :
H. Koontz
Wewenang / Authority Kekuatan /
Kewajiban adalah kekuatan untuk
memerintah orang lain agar orang tersebut bersedia melaksanakan atau tidak
melaksanakan suatu kegiatan tertentu sesuai kehendak yang mempunyai kekuatan
sehingga tujuan organisasi itu bisa tercapai.
A. Simon
Menekankan pada masalah pengambilan
keputusan dimana wewenang adalah kekuasaan untuk membuat keputusan yang dapat
mengendalikan tindakan – tindakan orang lain. Sedangkan authority dari wewenang
akan memberikan suatu kekuasaan memerintah bagi pimpinan terhadap bawahan
tetapi ada kemungkinan terhadap semua perintah yang dikeluarkan belum tentu
dipatuhi.
2. Peranan Authority :
a.
Memberikan sesuatu kekuasaan memerintah bagi pimpinan terhadap bawahan
tetapi
ada kemungkinan terhadap semua perintah yang dikeluarkan belum tentu dipatuhi.
b. Melaksanakan atau tidak melaksanakan suatu kegiatan tertentu
sesuai kehendak
yang mempunyai kekuatan sehingga tujuan organisasi itu bisa
tercapai.
Catatan Rio
●●Model Kepemimpinan Kontingensi. Model kepemimpinan kontingensi dikembangkan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, lvancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.
●●Model Kepemimpinan Kontingensi. Model kepemimpinan kontingensi dikembangkan oleh Fielder. Fielder dalam Gibson, lvancevich dan Donnelly (1995) berpendapat bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bagi sebuah organisasi bergantung pada situasi di mana pemimpin bekerja.
●●Menurut model kepemimpinan ini, terdapat tiga variable utama
yang cenderung menentukan apakah situasi menguntungkan bagi pemimpin atau
tidak. Ketiga variable utama tersebut adalah :
1. Hubungan pribadi pemimpin dengan para anggota
kelompok (hubungan
pemimpin - anggota);
2. Kadar struktur tugas yang ditugaskan kepada kelompok untuk
dilaksanakan
(struktur tugas);
3. Kekuasaan dan kewenangan posisi yang dimiliki
(kuasa posisi).
Catatan Rio Rizky
●●Gaya kepemimpinan, pada dasamya mengandung pengertian sebagai
suatu perwujudan tingkah laku dari seorang pemimpin, yang menyangkut kemampuannya
dalam memimpin. Perwujudan tersebut biasanya membentuk suatu pola atau bentuk
tertentu.
●●Davis dan Newstrom (1995) menyatakan bahwa pola tindakan
pemimpin secara keseluruhan seperti yang dipersepsikan atau diacu oleh bawahan
tersebut dikenal sebagai gaya
kepemimpinan.
Tiga Aliran Teori tentang Gaya Kepemimpinan
1. Teori Genetis (Keturunan)
2).Teori Sosial
3).Teod Ekologis
Teori Kepemimpinan
1. Genetis (Keturunan)
Inti dari teori menyatakan bahwa "Leader are born and nor
made" (pemimpin itu dilahirkan (bakat) bukannya dibuat).
Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan
dengan bakat kepemimpinan. Dalam keadaan yang bagaimanapun seseorang
ditempatkan karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, sesekali kelak ia
akan timbul sebagai pemimpin.
2. Teori Kepemimpinan Sosiologis
Inti aliran teori sosial ini ialah bahwa "Leader are made
and not born" (pemimpin itu dibuat atau dididik bukannya kodrati).
●● Jadi teori ini merupakan
kebalikan inti teori genetika.
●● Para
penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang
bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3. Teori Kepemimpinan Ekologis
Teori ekologis ini pada intinya berarti bahwa seseorang hanya
akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia telah memiliki bakat
kepemimpinan.
●● Bakat tersebut kemudian
dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman yang memungkinkan
untuk dikembangkan lebih lanjut.
●● Teori ini menggabungkan
segi-segi positif dari kedua teori terdahulu sehingga dapat dikatakan merupakan
teori yang paling mendekati kebenaran.
Catatan Rio Rizky
Tipe Dan Gaya Kepemimpinan:
1. Otoriter / Authoritarian
2. Militeristik
3. Paternalistis
4. Kharismatis
5. Demokratis
1. Gaya
Kepemimpinan Otoriter / Authoritarian
●●Adapun ciri – ciri dari
kepemimpinan Otoriter atau diktator sebagai berikut :
1.
Mendasarkan diri pada kekuasaan dan kepaksaan mutlak
yang harus dipatuhi
2.
Pemimpin selalu berperan pemain tunggal
3.
Berambisi untuk merajai situasi
4.
Setiap perintah / kebijakan selalu ditetapkan sendiri
5.
Bahan tidak pernah diberi informasi tentang rencana dan
tindakan yang akan dilakukan
6.
Semua pujian terhadap anak buah diberikan atas
pertimbangan pribadi
7.
Adanya sikap diktator
8.
Selalu ingin berkuasa secara absolute atau mutlak
9.
Sikap dan prinsipnya sangat konservatif, kuno dan kaku
10. Pemimpin
ini akan bersikap baik pada bawahannya jika mereka patuh.
●●Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala
keputusan dan kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala
pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
2. Gaya
Kepemimpinan Militeristik
●●Seorang
pemimpin yang bertipe militeristis ialah seorang pemimpin yang memiliki
sifat-sifat berikut:
− Dalam menggerakan bawahan sistem perintah yang
lebih sering dipergunakan;
− Dalam menggerakkan bawahan senang bergantung kepada
pangkat dan jabatannya;
− Senang pada formalitas yang berlebih-lebihan;
− Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari
bawahan;
− Sukar menerima kritikan dari bawahannya;
− Menggemari upacara - upacara untuk berbagai
keadaan.
3. Gaya
Kepemimpinan Patemalistik
●●Seorang pemimpin yang tergolong sebagai
pemimpin yang paternalistis ialah seorang yang memiliki ciri sebagai berikut:
− Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak
dewasa;
− Bersikap terlalu melindungi (overly protective);
− Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil keputusan;
− Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya
untuk mengambil inisiatif;
− Jarang memberikan kesempatian kepada bawahannya
untuk mengembangkan daya
kreasi dan
fantasinya; dan sering bersikap maha tahu.
4. Gaya
Kepemimpinan Kharismatik
●●Dimana tipe kepemimpinan ini memiliki kekuatan energi, daya
tarik dan pembawaan yang luar biasa untuk mempengaruhi orang lain sehingga ia
mempunyai pengikut yang sangat besar jumlahnya dan pengawal yang bisa
dipercaya. Kepemimpina karismatik dianggap memiliki kekuatan gaib (
supranatural ) sebagai karunia Yang Maha Esa. Kepemimpinan yang karismatik
memiliki inspirasi, keberanian, dan keyakinan teguh pada pendirian sendiri.
Totalitas kepemimpinan karismatik memancarkan
pengaruh daya tarik yang sangat besar.
●●Hingga
sekarang ini para ahli belum berhasil menemukan sebab - sebab mengapa seseorang
pemimpin memiliki karisma. Umumnya diketahui bahwa pemimpin yang demikian
mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai
pengikut yang jumlahnya yang sangat besar, meskipun para pengikut itu sering
pula tidak dapat menjelaskan mengapa mereka menjadi pengikut pemimpin itu.
●●Karena
kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seseorang menjadi pemimpin yang
karismatik, maka sering hanya dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi
dengan kekuatan gaib (supra natural power). Kekayaan, umur, kesehatan, profil
tidak dapat dipergunakan sebagai kriteria untuk karisma.
5. Gaya
Kepemimpinan Demokratis
●●Gaya kepemimpinan demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara
luas kepada para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan
bawahan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin
memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
●●Senang menerima saran, pendapat dan bahkan kritik dari
bawahannya; selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan teamwork dalam usaha
mencapai tujuan; ikhlas memberikan kebebasan yang seluas - luasnya kepada
bawahannya untuk berbuat kesalahan yang kemudian diperbaiki agar bawahan itu
tidak lagi berbuat kesalahan yang sama, tetapi lebih berani untuk berbuat
kesalahan yang lain; selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses
daripadanya; dan berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai
pemimpin.
Catatan Rio Rizky
Sifat-sifat kepemimpinan ( leader ), yang harus ditunjukan oleh
seorang pemimpin ( manajer ) yaitu mempunyai kelebihan, kemampuan dan tanggung
jawab.
1.
Kelebihan Kemampuan dan Kesanggupan ( Supervisory )
Bahwa,
Leadership harusla identik dengan dipunyainya kesanggupan ( ability ) untuk
menjelaskan sesuatu melebihi orang lain, dengan mana leader ( pemimpin )dapat
mempengaruhi segala kegiatan yang dilakukan dalam organisasi. Kesanggupan
adalah salah satu syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang leader
2.
Ketegasan ( Decisieniss
)
Mampu
memecahkan permasalahan dengan cakap dan tepat
3.
Kepercayaan Diri
Yaitu
kepercayaan diri yang didukung oleh kecerdasan, ilmu pengetahuan dan pengalaman
4.
Adanya Inisiatif
Dalam
berfikir jauh kedepan, selalu menginginkan kamajuan / cara – cara baru ( inovasi )
● Menurut Keith Davis,
mengisyaratkan tardapatkan 4 sifat – sifat utama yang harus dipunyai oleh
seorang pemimpin ( leadership ),
yaitu :
1. Adanya kecerdasan
2. Kedewasaan khusus
dalam wawasan hubungan sosial
3. Motivasi diri (
adanya dorongan untuk berprestasi )
4. Sikap – sikap
positef dalam hubungan atau human
relationship
● Beberapa Pendekatan (
Approach ) Kepemimpinan :
1. The Traitist Aproach
Yaitu
dengan mempelajari sifat – sifat dari seorang pemimpin yang ada ( mengidolakan
). Contoh : Nehru, Soekarno, Napoleon.
2. The Situationist
Aproach
Yaitu
menekankan tentang pentingnya analisa dari seorang leader adalah hubungannya
dengan keadaan atau situasitertentu yang sedang dihadapi “keadaanlah” yang akan
menimbulkan seorang pemimpin.
3. The Follower Aproach
Yaitu
dengan mempelajari kemampuan seseoranguntuk mempertahankan pengikut –
pengikutnya ( the follower ) sehingga orang tersebut dapat bertahan sebagai
pemimpin.
4. The Electric Aproach
Yaitu
pendekatan yang membahas pengertian leadership dalam arti keseluruhan (
mempelajari pendekatan yang ada)
Catatan Rio Rizky
Definisi
Kepemimpinan
Gany Yukl menyimpulkan definisi yang mewakili tentang
kepemimpinan antara lain sebagai berikut :
●●Kepemimpinan adalah perilaku
seorang individu yang memimpin aktifitas - akifitas suatu kelompok kesuatu
tujuan yang ingin dicapai bersama ( share
goal ) (Hemhill& Coons, 1957:7)
●●Kepemimpinan adalah
pengaruh antar pribadi yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, serta
diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian satu atau beberapa
tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961:24)
Unsur – Unsur Kepemimpinan
Unsur – unsur kepemimpinan
yaitu kepemimpinan menyangkut orang lain dimana wewenang ( power ) dan kepemimpinan menyangkut perintah.
1.
Kepemimpinan Masyarakat Orang Lain
Yaitu
orang lain atau bawahan atau pengikut yang secara sukarela menerima pengarahan
dari kepemimpinannya ( leader ) yang
sekaligus sebagai manajer ( pimpinan ). Tanpa adanya orang lain ( bawahan )
maka tidak ada kepemimpinan.
2.
Kepemimpinan Menyangkut Wewenang ( power )
Pemimpin
mempunyai wewenang untuk mengarahkan anggota kelompok yang dipimpinnya dengan
saran.
3.
Kepemimpinan Menyangkut Perintah
Perintah
harus dilaksanakan, akan tetapi pemimpin dapat melaksanakan fungsi
kepemimpinannya dengan cara mempengaruhi bawahan agar dapat melaksanakan
perintah.
Jenis-jenis Manajer, berdasarkan :
1. Perlcedaan vertikal atau hirarki
a. Top Manager
Seorang
manajer yang berada pada puncak hirarki dan bertanggung jawab atas keseluruhan
organisasi. Contoh : Dirut, Presiden DireKur, CEO.
Manajer
yang bekerja pada tingkat menengah organisasi dan bertanggung jawab atas unit
usaha dan departemen utama,.
Contoh : Direktur Produksi, Pemasaaran, Kepala Divisi.
Project Manager
Manajer
yang bertanggung jawab untuk pekerjaan sementan yang melibatkan partisipasi
orang yang datang dari berbagai fungsi yang dan tingkatan organisasi
c. First Line Manager atau Lower Manager
Seorang
manajer yang secara langsung bertanggung jawab atas produksi barang
dan jasa. Contoh : Supervisor
2. Perbedaan Horizontal (luas
ruang lingkup tugas)
a. General Manager
Manajer
yang bertanggung jawab terhadap beberapa departemen yang menjalankan fungsi
yang berbeda atau manajer yang bertanggung jawab untuk divisi yang berdiri
sendiri (mandiri).
b. Functional Manager
Manajer
yang bertanggung jawab atas departemen yang menjalankan tugas fungsional
tunggal serta memiliki karyawan dengan pelatihan dan keahlian yang serupa.
Contoh : Direktur Produksi, Pemasaaran, Kepala Divisi.
TINGKATAN MANAJEMEN
→ TOP MANAJER
- Menyusun strategi
- Membuat kebijakan
- Menganalisa kejadian / peristiwa
→MIDLLE
MANAJER
- Berinteraksi / bekerja sama
- Menjadi penghubung a.n Top
dan Lower
→LOWER MANAJER
- Pekerja
secera fisik / dilapangan
-
Menggunakan peralatan / mesin
Keahlian atau
Keterampilan Manajer
Adapun keahlian atau keterampilan yang terdapat pada
manajer sesuai dengan tingkatan – tingkatan yang telah dijelaskan diatas.
Antara lain sebagai berikut:
1. Keterampilan Konseptual (Conceptual Skill )
Keterampilan Konseptual adalah
kemampuan berfikir dan konseptualisasi tentang situasi yang abstrak dan rumit
atau kemampuan kognitif (pengalaman, intelegen) untuk melihat organisasi secara
keseluruhan dan keterkaitan diantara bagian - bagiannya. Berarti kemapuan untuk
berfikir strategis (mengambil pandangan yang luas dan bersifat jangka panjang).
2. Keterampilan Manusiawi (Human Skill)
Keterampilan
Manusiawi adalah kemampuan bekerja secara baik dengan orang lain secara individual
atau dalam kelompok atau bisa juga disebut kemampuan manajer untuk bekerja
dengan dan melalui orang lain
3. Keterampilan Teknik (Technical Skill)
Keterampilan
Teknik adalah pengetahuan dan kemahiran dibidang spesialisasi tertentu atau
bisa juga disebut pemahaman dan kefasihan dalam melakukan tugas tertentu, mencakup
penguasaan metode, teknik dan peralatan yang digunakan.
Bagan Pembagian
Keahlian atau Keterampilan
Sesuai dengan
Tingkatan Manajer
konseptual
|
manusiawi
|
teknik
|
konseptual
|
manusiawi
|
teknik
|
konseptual
|
manusiawi
|
teknik
|
└>Lower manajer └>Midlle manajer └>Top manajer
(keterampilan teknik)
(keterampilan manusia)
(keterampilan konseptual)
PROSES MANAJEMEN
Oleh Rio Rizky
Proses Manajemen yaitu serangkaian keputusan dan
kegiatan kerja yang sedang terjadi yang dialami oleh para manajer sewaktu
mereka merencanakan, mengorganisasi, memimpin dan mengendalikan.
Proses manajemen mengandung pengertian yang dinamis yaitu
adanya kegiatan manajer dalam melaksanakan ( memproses ) fungsi-fungsi manajemen
yang telah ditentukan. Kalau membicarakan " proses " maka dapat
dikatakan bahwa :
Menajemen
adalah meliputi : kegiatan - kegiatan Perencanaan ( Planning ), Pengorganisasian
( Organizing ), Pengarahan (Actuating / Leading ) dan Pengendalian ( Controling
), dari sebuah organisasi perusahaan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah
ditetapkan. Jadi, seorang manajer mempunyai tugas utama, yaitu melaksanakan
fungsi manajemen dalam bentuk kegiatan – kegiatan nyata.
Kalau ditelaah pengertian diatas maka para manajer
tersebut adalah orang yang berwenang :
1.
Merencanakan untuk hal yang akan datanga
2.
Mengorganisir organisasi perusahaan termasuk
karyawannya.
3.
Mengarahkan semua kegiatan – kegiatan orang – orang
yang menjadi anggota organisasi perusahaan.
4.
Mengendalikan semua kegiatan yang menyangkut lingkup
operasi perusahaan.
Dalam hal kegiatan –
kegiatan perencanaan hingga aktivitas pengendalian terdapat tugas terpenting
dari seorang manajer selaku pimpinan perusahaan sebagai “pengembilan
keputusan”,sebab tidak ada suatu kegiatan pun yang dapat dilaksanakan tanpa
adanya perencanaan dan pengendalian.
Seorang manajer adalah orang berwenang memimpin dan
mengatur semua unsur yang terlibat dalam organisasi / perusahaan.
Adapun kegiatan didalam Proses Manajemen meliputi
Input, Proses, Output sebagai berikut :
●lnput (sumber daya)
- Man, materials, money, machine, method, information
●Proses
- Perencanaan : menilik tujuan dan cara pencapaian
- Pengorganisasian : pemenuhan tanggung jawab untuk
pencapain tujuan
- Kepemimpinan : menggunakan pengaruh untuk
memotivasi bawahan
- Pengendalian : mengawasi kegiatan dan melaksanakan
koreksi
●Output (kinerja)
- Mencapai tujuan, produk, jasa, efisiensi, efektivitas.
Kinerja
Kemampuan organisasi untuk mempertahankan tujuannya
dengan menggunakan sumber daya secara efeKif dan efisien.
EfeKivitas
→melakukan pekerjaan dengan benar
Sejauhmana organisasi mencapai tujuan yang telah
ditentukan
Efisiensi→melakukan
pekerjaan dengan benar atau sesuai standar
Jumlah sumber daya yang digunakan untuk mencapai
tujuan
Suatu
organisasi baik baik yang berorientasi kepada kepentingan sosial (Social Motives) maupun organisai yang
berorientasi kepada laba (Profit Motives) pasti mempunyai tujuan yang akan
dicapai, dimana penetapan tujuan tersebut lebih dahulu diformulasikan dalam
bentuk perencanaan yang matang.
Organisasi
Keberhasilan dalam mencapai tujuan tersebut identik dengan
keberhasilan organisasi dimasa depan. Keberhasilan masa depan dalam era
globalisasi,seperti yang terjadi di negara – negara maju terletak pada
kemampuan manajemen dalam mengelola organisasi, tingginya produktivitas,
kemampuan perusahaan dalam beradaptasi dengan lingkungan serta yang tak kalah
pentingnya dalam kemampuan dalam pengelolaan sumber daya manusia dengan cara
yang paling tepat.
Organisasi
Kesatuan sosial yang dirahkan dengan tujuan dan dibentuk dengan
penuh pertimbangan. Entitas sosial merupakan dua orang atau lebih, diarahkan
dengan tujuan (dirancacng untuk mencapai output tertentu).
Pentingnya Organisasi dan Manajemen Organisasi
└>Distrukturisasi dan diintegrasinya aktivitas maksudnya
orang – orang yang bekerja atau bekerja sama dalam hubungan interdependen.
Adapun Pengertian Organisasi
yaitu sebagi berikut :
1.
Kelompok manusia yang memiliki suatu tujuandan
berorientasi pada sasaran.
2.
Sistem – sistem psikososial,
dimana terlihat manusia bekerja dalam kelompok– kelompok
3.
Sistem – sistem teknologikal, dimana manusia
menggunakan pengetehuan – pengetahuan dan teknik.
4.
Suatu integrasi kegiatan – kegiatan yang terstruktur
dimana manusia bekerja sama.
FUNGSI MANAJEMEN
Oleh Rio Rizky
Menurut Stephen P Robbin (1993) fungsi manajemen antara lain
meliputi aKifitas merencanakan (planning), mengorganisasikan (organizing),
memimpin (leading) dan mengendalikan (controlling) akifitas bisnis dari suatu
organisasi / perusahaan.
●Planning ●Organizing
●Leading ●Controlling
Fungsi Manajemen:
1. Perencanaan
Menentukan tujuan-tujuan, menentukan tugas, menentukan sumber
daya
2. Pengorganisasian
Menentukan
dan mengelompokkan tugas-tugas, alokasi sumber daya, penentuan otoritas
3. Kepemimpinan
Pengaruh →Motivasi
4. Pengendalian
Mengawasi akiivitas, koreksi, mengawasi target dan tujuan
Fungsi Manajemen menurut Samuel C. Certo (dalam bukunya “modern
management”)
Fungsi Manajemen menurut Griffin
Untuk mempermudah analisa,
para ahli mengemukakn bahwa manajemen
terdiri dari beberapa fungsi yang fundamental. Fungsi
- fungsi manajemen tersebut
antara lain sebagai berikut :
G.R Terry Louis A. Allen Jhon A. Pearce II
1. Planning 1.
Leading 1.
Planning
2. Organizing 2. Planning 2. Organizing
3. Actuating 3.
Organizing 3. Directing
4.Controling 4.
Controling 4.
Controling
James A.F Stoner Jhon
F. Mee Jhon D
Millet
1. Planning 1.
Planning 1.
Directing
2. Organizing 2.
Organizing
3. Leading 3.
Motivating 2.
Facilitating
4.Controling 4.
Controling
Hendry Fayol Harold
Koontz W.H Newman
1. Planning 1.
Planning 1.
Planning
2. Organizing 2.
Organizing 2.
Organizing
3. Leading 3.
Staffing 3.
Assembling
4. Coordinating 4.
Directing Resouches
5. Controling 5.
Controling 4.
Directing
5.
Controling
Beberapa pendapat diatas memberikan
pandangan kepada kita bahwa, terdapat fungsi yang berbeda dari para ahli.
Perbedaan pendapat ini karena :
1.
Adanya pencampuradukan antara fungsi, proses dan
kegiatan pekerjaan.
2.
Deskripsi fungsi – fungsi sangat subjektif
3.
Tidak ada kesamaan terminology menyangkut konsep yang
sama
4.
Kompleksnya kegiatan perusahaan maupun perkembangan
dunia bisnis serta adanya organsasi yang berbeda – beda.
Walaupun adanya perbedaan namun dalam prakteknya
pembegian fungsi – fungsi ini tidak dapat dibedakan secara tajam, karena
manajemen itu sendiri merupakan cara yang sistematik untuk mengerjakan suatu
pekerjaan atau tugas tertentu. Perusahaan yang berhasil baik tidak dapat
dipisahkan dengan perusahaan yang mempunyai manajemen yang baik.
Para manajer
melaksanakan fungsi – fungsi manajemen dalam tingkatan yang berbeda– beda. Para manajer adalah mereka yang
terpilih untuk mempersatukan uang (money), bahan baku (materials) dan peralatan (machinery)
yang diperlukan untuk menyelenggarakan kegiatan operasi perusahaan. Mereka
harus secara konseptual mendesain bagaimana :
1.
Merencanakan kegiatan dalam mencapai tujuan yang
ditentukan
2.
Membentuk rencana pengorganisasian yang efektif
menopang perencanaan yang ada
3.
Membuat rencana bagaimana untuk mengarahkan (memimpin)
orang – orang yang terlibat dalam organisasi.
4.
Mendisain pengendaliaan yang efektif sehingga segala
bentuk deviasi (penyimpangan) yang mungkin terjadi pada kegiatan operasi
organisasi perusahaan dapat dikurangi
Secara mendasar setiap fungsi manajemen harus
dilaksanakan / diproses oleh para manajer secara berurutan dan sistematik,
sehingga proses manajemen dapat dilaksanakan secara baik.
Ditulis: Rio Rizky
Untuk mengelola organisasi
secara efektif dan efisien sangat berkaitan erat dengan usaha pengkoordinasian
berbagai kegiatan yang paling berbeda kemudian diarahkan kepada fokus tujuan
yang telah disepakati. Terdapat dua hal yang.harus diperhatikan agar
pengelolaan organisasi dapat berhasil. Kedua hal ini merupakan hal yang prinsip
dalam mengelola organisasi; Pertama,
prinsip pengelolaan ( prinsip manajemen ) yaitu bagaimana memimpin orang-orang,
serta Kedua, prinsip mengorganisasi
kegiatan yang menyangkut orang-orang yang dipimpin tersebut ( prinsip
organisasi ). Kedua prinsip tersebut saling memperkuat dan manpunyai dasar yang
sama dalam pengelolaan kerja kelorpok individu yurg terlibat dalam suatu
organisasi.
Untuk melaksanakan
fungsi-fungsi kepemimpinan dalam membawa organisasi mencapai tujuan diperlukan
prinsip - prinsip kepemimpinan. Banyak para ahli terdahulu yang mencoba untuk
memformulasikan bagaimana prinsip - prinsip
dasar yang harus dilakukan agar suatu organisasi dapat berjalan sesuai dengan
keinginan. Diantara prinsip-prinsip tersebut yang merupakan sumbangan abadi
hingga saat ini adalah yang diungkapkan oleh seorang Prancis bernama Hendry
Fayol. Hendry Fayol yang berangkat dari praktisi sebagai manajer sebuah perusahaan
batu bara besar.
Menurut Fayol tidak
diperlukan aturan yang kaku dalam kegiatan kerja, karena kelayakan dalam suatu
prinsip pada situasi tertentu merupakan seni (Art) dari manajemen. Prinsip - prinsip
yang dikemukakan Fayol adalah hasil dari
penglamannya selama bekerja. Pada tahun 1929, Fayol mengemukakan 14 prinsip
manajemen yang
diangkat dari pengalamannya
sendiri dimana akan menuntun para manajer dalam mengelola organisasi. Dan 14
prinsip menurut Fayol ialah sebagai berikut :
1. Pembagian Kerja ( Division of Work )
Setiap pekerjaan sebaiknya dibagi dan dibagi lagi kedalam elemen paling kecil untuk memperoleh keunggulan dari spesialisasi.
2. Keseimbangan Wewenang dan Tanggung Jawab (Authortty and Responsibihty )
Setiap pegawai tetap ( reguler employee ) sebaiknya diberi delegasi wewenang yang cukup untuk melaksanakan berbagai tanggung jawab penugasan pekerjaan.
Setiap pekerjaan sebaiknya dibagi dan dibagi lagi kedalam elemen paling kecil untuk memperoleh keunggulan dari spesialisasi.
2. Keseimbangan Wewenang dan Tanggung Jawab (Authortty and Responsibihty )
Setiap pegawai tetap ( reguler employee ) sebaiknya diberi delegasi wewenang yang cukup untuk melaksanakan berbagai tanggung jawab penugasan pekerjaan.
3. Disiplin Karyawan (Discipline)
Seharusnya mematuhi apapun perjanjian yang ada, yang dinyatakan secara jelas diantara mereka dan organisasi, manajer sebaiknya memberi sanksi yang adil atas seluruh kejadian pelanggaran disiplin.
4. Kesatuan Perintah (Unity of Command)
Karyawan sebaiknya menerima perintah dari dan bertanggung jawab hanya kepada satu atasan.
5. Kesatuan Arah (Unity of Direction)
Aktivitas-aktivitas yang memiliki tujuan sama sebaiknya dikelompokkan bersama dan beroperasi dibawah rencana yang sama.
6. Mengebawahkan Kepentingan Individu Terhadap Kepentingan umum,
Seharusnya mematuhi apapun perjanjian yang ada, yang dinyatakan secara jelas diantara mereka dan organisasi, manajer sebaiknya memberi sanksi yang adil atas seluruh kejadian pelanggaran disiplin.
4. Kesatuan Perintah (Unity of Command)
Karyawan sebaiknya menerima perintah dari dan bertanggung jawab hanya kepada satu atasan.
5. Kesatuan Arah (Unity of Direction)
Aktivitas-aktivitas yang memiliki tujuan sama sebaiknya dikelompokkan bersama dan beroperasi dibawah rencana yang sama.
6. Mengebawahkan Kepentingan Individu Terhadap Kepentingan umum,
Kepentingan organisasi Lebih Diutamakrn Diatas Kepentingan Individu ( Subordination Of Individual Interest To The Common Goal )
7. Pembayaran Gaji ( Remuneretion )
Pembayaran gaji yang adil, pembayaran seharusnya didasarkan pada pencapaian sasaran penugasan pekerjaan.
8. Sentralisasi ( Centralization )
Wewenang seharusnya didelegasikan seimbang dengan tanggung jawab.
9. Rantai Skalar ( The Hierarchy )
Sebuah rantai perintah yang tidak terputus - putus seharusnya ada melalui semua pengarahan dan aliran komrmilasi.
10. Perintah ( 0rder )
Setiap pekerjaan seharusnya didefinisikan dengan jelas sehingga pegawai tetap (reguler employee) memahami perintah tersebut dan hubungannya dengan pekerjaan lain.
11. Kesamaan Perlakuan ( Equity )
peraturam dan perjanjian yang dibuat harus diselenggarakan secara terbuka.
12. Stabilitas Personalia ( Stability of Staff )
Tingkat perputaran tenaga kerja (labor turnover) tidak menguntungkan organisasi, dan mereka seharusnya mempunyai komitmen yang lama.
13. Inisiatif ( Initiative )
Karyawan sebaiknya didorong untuk berani membuat keputusan didalam batas – batas wewenang yang dideligasikan kepadanya, walaupun beberapa esalahan mungkin akan terjadi.
14. Semangat Korp ( Esprit de corps )
Karyawan sebaiknya didorong untuk mendefinisikan kepentingannya dengan kepentingan organisasi dan dengan demikian mencapai kesatuan kekuatan yang tercermin dari “persatuan adalah kekuatan organisasi”.
7. Pembayaran Gaji ( Remuneretion )
Pembayaran gaji yang adil, pembayaran seharusnya didasarkan pada pencapaian sasaran penugasan pekerjaan.
8. Sentralisasi ( Centralization )
Wewenang seharusnya didelegasikan seimbang dengan tanggung jawab.
9. Rantai Skalar ( The Hierarchy )
Sebuah rantai perintah yang tidak terputus - putus seharusnya ada melalui semua pengarahan dan aliran komrmilasi.
10. Perintah ( 0rder )
Setiap pekerjaan seharusnya didefinisikan dengan jelas sehingga pegawai tetap (reguler employee) memahami perintah tersebut dan hubungannya dengan pekerjaan lain.
11. Kesamaan Perlakuan ( Equity )
peraturam dan perjanjian yang dibuat harus diselenggarakan secara terbuka.
12. Stabilitas Personalia ( Stability of Staff )
Tingkat perputaran tenaga kerja (labor turnover) tidak menguntungkan organisasi, dan mereka seharusnya mempunyai komitmen yang lama.
13. Inisiatif ( Initiative )
Karyawan sebaiknya didorong untuk berani membuat keputusan didalam batas – batas wewenang yang dideligasikan kepadanya, walaupun beberapa esalahan mungkin akan terjadi.
14. Semangat Korp ( Esprit de corps )
Karyawan sebaiknya didorong untuk mendefinisikan kepentingannya dengan kepentingan organisasi dan dengan demikian mencapai kesatuan kekuatan yang tercermin dari “persatuan adalah kekuatan organisasi”.
Ditulis: Rio Rizky
Manajemen dilihat dari berbagai bidang yaitu sebagai
berikut :
1.
Manajemen Sebagai Seni
Menurut
G. R. Terry
Manajemen
merupakan “Art of Arts” karena ia mengorganisasikan dan memanfaatkan bakat –
bakat manusia.
Seni Manajemen mencakup upya membayangkan
suatu keseluruhan teratur dari bagian – bagian yang kacau dan kemudian visi
yang timbul dikomunikasikan dan kemudian tujuan diraih.
“Management is the art of securing maximum
result with minimum of efforts as to secure maximum prosperity and happinnes
for both employer and employee and give the public the best possible services”.
Manajemen adalah seni untuk mencapai hasil
maksimal dengan usaha minimal, demikian pula mencapai kesejahteraan dan
kebahagian maksimal bagi pimpinan maupun pekerja serta memberikan pelayanan
yang sebaik mungkin kepada masyarakat.
2.
Manajemen Sebagai Ilmu Pengetahan
Ilmu Pengetahuan : Mengajarkan
kita untuk memahami sesuatu.
Seni :
Mengajarkan kita bagaimana melakukan suatu hal.
Ilmu
Pengetahuan Manajemen mencakup pengembangan secara sistematik dan pengujian
teori berdasarkan atau berlandaskan pada observasi prilaku dan studi demikian menyebabkan
timbulnya suatu kelompok peng etauhan umum (A General Body of Knowladge).
Menurut Luther
Gullick mendefinisikan manajemen sebagai ilmu pengetahuan (science) yang
berusaha secara sistematik untuk memahami mengapa dan bagaimana manusia bekerja
sama untuk mencapai tujuan dan membuat system kerja ini bermanfaat bagi
kemanusiaan, manajemen memerlukan disiplin ilmu pengetahuan lain dalam
penerapannya missal ilmu ekonomi, statistik, akuntansi dan sebagainya.
Manajemen Sebagai Suatu Seni Mempunyai Ciri - ciri :
Kesuksesan dalam mencapai tujuan sangat dipengaruhi dan
didukung oleh sifat – sifat dan bakat para manajer dalam proses pencapaian
tujuan seringkali melibatkan unsure naluri ( Instinct ), peresaan dan
intelektual dalam pelaksanaan kegiatan faktor yang cukup menentukan
keberhasilannya adalah kekuatan pribadi (Character) kreatif yang dimiliki.
→ Catatan: Manajemen dapat dikatakan sebagai ilmu yang cepat berkembang.
3. Manajemen Sebagai
Proses Kegiatan
“Management
is a distinct process consisting of planning, organizing, actuating,
controlling, utilizing in each both science and art and follow in order to
accomplish predetermined objectives”.
“Manajemen adalah proses yang khas terdiri dari tindakan
perencanaan,
pengorganisasian,
pelaksanaan dan pengendalian dimana dalam masing -masing bidang tersebut
digunakan ilmu pengetahuan dan keahlian yang diikuti secara berurutan dalam
usaha mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan”.
Management
will be defined as the application of planning, organizing, stafiing,
directing, and controlling functions in the most efficient manner possible to
accomplish objectives.
Manajemen
didetinisikan sebagai penggunaan perencanaan, pengorganisasian, pengedaan,
pengarahan, dan pengendalian dengan cara yang paling efisien untuk mencapai
tujuan.
4. Manajemen Sebagai
Profesi
Manajemen sebagai Profesi merupakan suatu bidang
pekerjaan yang dilakukan
oleh orang-orang yang memiliki keahlian dan keterampilan
sebagai kader,
pemimpin atau'manajer' pada suatu organisasi / perusahaan
tertentu. Profesi
manajer merupakan sebuah profesi atau jabatan spesifik dan
'prestigious'
sebagai 'decision
maker' yang dapat menentukan berkembangnya suatu
organisasi / perusahaan dimasa mendatang.
Menurut Edgar H. Schein
ada tiga macam
kualitas esensial yang berpendapat manajemen sebagai
profesi :
a.
Eksistensi sekelompok prinsip – prinsip umum yang
mengarahkan
pengambilan keputusan.
b.
Status dicapai melalui dan bukan favoritisme atau
mengunggulkan politik.
c.
Peran maneger dibimbing oleh kode etik yang berlaku.